Menjadi PRAJURIT adalah PILIHAN, KEBANGGAN DAN KEHORMATAN

Segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada yang serba kebetulan. Menjadi prajurit disamping sebagai suatu amanat juga merupakan suatu pilihan, suatu kehormatan dan suatu kebanggaan. Pilihan karena hidup memang harus memilih. Manusia diberi kodrat oleh Tuhan dengan kebebasan untuk memilih apa yang menjadi keinginannya. Pilihan menjadi prajurit harus disikapi dengan penuh kesadaran. Cukup nista jika menjadi prajurit karena keterpaksaan apalagi jika kemudian menjadi prioritas terakhir hanya lantaran tidak ada lagi pilihan yang lain.

 

Dengan memilih menjadi prajurit, kita harus memiliki keteguhan untuk menyikapi pilihan ini sebagai sebuah kehormatan, itulah sebabnya menjadi seorang prajurit selalu harus disertai keinginan untuk berbuat yang terbaik. Karena kehormatan dirinya terletak kepada tugas – tugas yang harus dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.

Menjadi prajurit juga merupakan suatu kebanggaan, karena tugas–tugas yang diamanatkan kepada kita merupakan tugas yang mulia yaitu untuk senantiasa mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa yang kita cintai dan kita banggakan ini. Prajurit rela berkorban jiwa dan raga untuk melindungi bangsa, rakyat dan negara  agar senantiasa hidup dalam kedamaian dan ketenangan.

Sejatinya, menjadi prajurit yang berhasil dan diperhitungkan oleh satuan, bahkan juga oleh seluruh prajurit yang lain sebenarnya bukan hanya kesempatan tetapi sekali lagi merupakan suatu pilihan. Tetapi ada ungkapan yang menyatakan bagaimana seorang prajurit akan dapat berhasil jika tidak mendapat kesempatan? Kesempatan dalam banyak hal tidak selalu datang dengan sendirinya, kesempatan akan memihak kepada prajurit yang memiliki potensi dalam dirinya. Membangun potensi untuk memperoleh kesempatan itulah pilihan. Potensi yang disertai dengan motivasi akan mempermudah meraih kesempatan tersebut. Motivasi merupakan suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, persepsi, kebutuhan dan keputusan yang terjadi pada diri pribadi. Prajurit yang hebat rata-rata mempunyai dorongan kerja yang timbul dalam dirinya sendiri secara ikhlas untuk berperilaku dalam mencapai tujuan atau pilihan yang telah ditentukan. Dengan demikian pilihan menjadi prajurit tidak hanya berhenti sebatas kita telah menjadi prajurit saja, namun yang jauh lebih utama bagi eksistensi kehidupannya tentulah yang bermakna dan dapat memberi kontribusi yang baik bagi Bangsa dan Negara.

Oleh karena itu makna pilihan disini amat luas mulai dari kesadaran pribadi sampai dengan keharusan untuk setia dan tidak menyia-nyiakan pilihan tersebut. Suatu pertanyaan kritis yang perlu kita renungkan, mengapa kita memilih menjadi prajurit? Jawaban dari pertanyaan ini bisa beragam. Hal ini tergantung dan tidak lepas dari latar belakang, pengalaman hidup dan cara berpikir seseorang.

Disadari bahwa pilihan menjadi prajurit merupakan profesi yang terhormat dan membanggakan. Prajurit adalah bhayangkari negara yang siap berkorban jiwa dan raga demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tanpa mengecilkan arti dan peran dari profesi lain, sejatinya pengorbanan jiwa dan raga para prajurit menempati posisi yang mulia. Artinya sebagai kesatria bangsa, seorang prajurit tidak bisa tidak harus dapat menempatkan diri sebagai pengawal dan perisai bangsa. Wajar dan bahkan sangat tepat jika pilihan menjadi prajurit merupakan lambang kejantanan dan sosok terdepan dalam melindungi rakyatnya dari ancaman musuh. Sebagai prajurit dalam suatu kondisi apapun, ia tidak boleh mengingkari jati dirinya dan bahkan juga tidak boleh lari dari kenyataan apalagi menghindar dari tanggung jawab. Lambang kejantanan menandakan akan keberanian untuk memikul tanggung jawab dan menanggung resiko atas perbuatannya. Itulah sejatinya seorang prajurit ksatria.

Disamping itu menjadi prajurit harus bangga dengan kehidupan organisasi yang memiliki tradisi dan iklim kehidupan yang khas. Organisasi yang memiliki otoritas dan irama yang membuat kita menjadi disiplin, teratur, loyal dan memiliki jiwa korsa yang tinggi. Sikap seperti itu bisa saja tidak disenangi bagi banyak orang tetapi jika telah menjadi pilihan, justru akan menjadi sumber kebahagiaan. Sikap tersebut diperlukan karena misi utama seorang prajurit adalah sebagai Bhayangkari Negara, tiada lain ia harus mengutamakan kepentingan nasional.

Lebih dari itu, menjadi prajurit harus memiliki komitmen moral yang bagus, disamping tentunya nilai dan etika yang luhur. Apalah artinya pilihan itu jika kita tidak sanggup menjaga dan memiliki segi-segi kehidupan moral yang baik. Pastilah harus diyakini dalam kehidupan keprajuritan, moral dan etika memegang peranan penting dan karena itulah sikap dan perilaku kita selaku prajurit harus benar-benar sesuai norma dan aturan yang bukan hanya secara universal berlaku bagi setiap orang, tetapi secara khusus norma dan aturan yang juga berlaku bagi kehidupan keprajuritan (Abdul Haris Nasution; 1997).

Menjadi prajurit seperti itu jelas sangat membanggakan, karena ia sanggup menempatkan diri sesuai citra dan harapan masyarakat. Bahkan ia pun sanggup berperan dan melaksanakan misinya melebihi panggilan tugasnya.

Sebaiknya pilihan menjadi prajurit juga harus disadari amat sarat dengan resiko, konsekuensi dan bahkan pengorbanan. Akan tetapi semua itu tidak sama sekali menjadi hambatan apapun bagi seseorang yang telah menentukan pilihannya menjadi prajurit. Mengapa demikian hebat sikap dan prinsip hidup seorang prajurit, bahkan berani menghadapi resiko atas pilihannya tanpa beban?

Pertama, ia telah memegang teguh nilai dan etika keprajuritan dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh sepanjang kehidupannya sebagai militer. Bukan hanya berhenti sampai disitu, ia pun tetap lekat dengan keteguhan nilai dan etika keprajuritan meskipun sudah purnawira. Karena ia yakin bahwa nilai-nilai luhur itu bukan hanya harus diyakini kebenarannya, tetapi juga perlu dilestarikan dengan mewariskannya.

Kedua, seorang prajurit sadar betul bahwa Sapta Marga dan Sumpah Prajurit adalah jiwa pengabdian dan kode etik keprajuritan. Sikap, kepribadian dan jalan hidup prajurit sebagaimana terwujud dalam Sapta Marga tiada lain dan tiada bukan merupakan perwujudan sikap dan perilaku Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman bersama salah seorang Dwi Tunggal Bapak Pendiri TNI Letjen Oerip Soemohardjo (Tjokropanolo;1992). Beliau telah berhasil meletakkan dasar-dasar yang merupakan landasan kekuatan bagi suatu tradisi dan etika seorang prajurit. Beliau telah menunjukkan bukti-bukti keteguhan, keberanian dan kepercayan yang tidak tergoyahkan pada kekuatan tentara, rakyat dan bangsanya sendiri semenjak perang kemerdekaan.

Ketiga, sebagai seorang prajurit yang tidak lagi menyikapi resiko sebagai sebuah beban, ia sadar bahwa kepentingan pribadi memang harus sering dikorbankan demi kepentingan organisasi, sekaligus juga kepentingan yang lebih besar. Namun demikian ia merasa amat terhibur dan memperoleh kebahagiaan yang tiada terkira karena dalam kehidupan keprajuritan itulah ia dapat menikmatinya. Ia rasakan indahnya kesetiaan antara sesama prajurit, kekompakan dan jiwa korsa yang memang merupakan ciri khas prajurit. Oleh sebab itu tidak ada prajurit yang boleh bersikap dan berbuat semaunya sendiri serta menabrak nilai-nilai tradisi yang amat dibanggakan oleh setiap prajurit.

Keempat, yang semestinya juga menjadi beban kehidupan orang banyak, tetapi tidak dalam kehidupan militer adalah perpindahan tugas yang dikenal dengan Tour Of Duty maupun Tour Of Area. Resiko pisah keluarga, istri dan anak termasuk di dalamnya tugas-tugas operasi, semua itu justru menjadi bagian kehidupan dari sosok seorang prajurit. Ia akan memperoleh pengalaman tugas yang amat berharga dan semua itu akan sangat membanggakan dirinya.

Itulah sebabnya ketika pilhan itu sudah dijatuhkan, seraya menikmati perjalanan waktu, pastilah semua itu akan mewartakan suka dan duka. Romantika itu pada akhirnya terakumulasi hanya dalam satu kalimat pendek ” Menjadi prajurit sebagai pilihan hidupnya telah memberikan kebanggaan  dan  kebahagiaan  yang  luar  biasa “ (Susilo Bambang Yudhoyono; 2000). Ia telah sanggup  memadukan segala hal dari pasang surut pengabdian dan pengorbanan itu kedalam sanubari yang mendatangkan hidupnya sangat berarti dan meskipun pada akhirnya sampai ke ujung pengabdian formalnya ia tetap sarat dengan kehormatan dan kebanggaan.

Prajurit harus senantiasa mempunyai semangat 45 yang dalam arti kongkritnya merupakan ajaran Panglima Besar Jenderal Soedirman yaitu “ Percaya diri dan tidak mengenal menyerah”. Menghadapi dinamika dan perkembangan keadaan seperti apapun juga, menghadapi cobaan, permasalahan dan rintangan seberat apapun, jangan pernah goyah dengan pilihan itu. Kita harus mengingat kembali pernyataan yang dikemukakan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman yang mengandung arti kebenaran dan sekaligus tuntunan bagi segenap prajurit yaitu,” Satu-satunya hak milik nasional Republik yang masih tetap utuh dan tidak berubah-ubah, meskipun harus menghadapi segala macam soal dan perubahan, adalah hanya Angkatan Perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia). Maka sebenarnya menjadi kewajiban bagi kita sekalian yang senantiasa tetap mempertahankan tegaknya Proklamasi 17 Agustus 1945, untuk tetap memelihara agar supaya hak milik nasional Republik itu tidak dapat dirubah-rubah oleh keadaan yang bagaimanapun juga ”.

Untuk itulah prajurit harus senantiasa memegang teguh komitmen dan cita-cita nasional bangsa Indonesia untuk tetap dan terus menjadi prajurit yang profesional, dedikatif dan membanggakan. Pilihan untuk menjadi prajurit itu tidak salah karena pilihan itu benar dan mulia.

 

Oleh Mayor Kav Hermawan Weharima, S.H.

photo_2016-11-23_12-19-18

photo_2016-11-23_12-20-10

photo_2016-11-23_12-21-18

photo_2016-11-23_12-25-01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *